Pejuang Sinyal

Haha… Tercetus kata-kata ini saat ngobrol dengan kakak Olif di grup menulis, tentang sulitnya koneksi internet di tempat masing-masing malam ini.

Karena kebutuhan internet berkoneksi cepat itu sudah seperti makan nasi kali ya? Harus ada, ngga bisa engga. Kalau dulu, orang berkirim surat harus beli kertas surat yang lucu, tulis dengan rapi, segel amplopnya, tempelin perangko, bawa ke kantor pos, dan tunggu beberapa hari sampe surat intu sampai. Itupun masi harap-harap cemas nunggu balesannya. Itungannya hari, bahkan bulan, hmmm.. Mungkin juga tahun.

Sekarang? Yang ditunggu adalah centang dua, warna biru. Oh, sudah dibaca. Siap-siap tunggu balesan. Beberapa menit ga dibales udah mikir yang engga engga. Kok sombong banget, udah baca ngga dibales, dst.

Atau… Yang semacamnya.

Real life becomes Internet life, or vice versa? Jadi mikir kyk Avatar, punya sosok diri yg lain di dunia yg lain. Ato kayak karakter di film animasi Summer Wars, yang kira-kira kayak gitu juga. Efek dunia maya mengatur kehidupan nyata, yang kemudian mengambil alih kehidupan nyata dan manusia berperang melawan suatu kecerdasan buatan yang berusaha menguasai dunia.

Ah… Daripada terus terusan memperjuangkan sinyal yang hanya Allah dan operator nya saja yang tahu kapan bakal lancar jaya mulus kayak tahu sutra, mungkin sebaiknya aku tidur saja….

Oyasumi… =)

Advertisements

7 thoughts on “Pejuang Sinyal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s