Kerjaan vs Pendidikan

“Sekolah yang tinggi, biar bisa dapat kerjaan yang bagus… ”

Yakin nih? Mungkin itu juga yanh sempat terbayang dalam benakku dulu, hehe… Tapi ngga juga sih, aku sekolah sampe estelemile (hehe..) aku ngga segitunya bisa pede ngelamar kerja ke perusahaan trus mengajukan tawaran gaji sekian juta misalnya. Ato itu tipikal kepribadian? Haha… Ngelessss… Diawur bgt. Ato bisa jadi, kelamaan sekolah jadi ngga paham gimana caranya nyari kerja, bisanya cuma utak utik masalah, bikin penelitian, paper dan garap garap tugas di atas kertas? Wkwkwkkk…

Pesan salah satu dosenku, kuliah itu untuk membentuk pola pikir. Jadi ngga ada hubungannya ama kerja. Tapi iya sih di kuliahan kita selain belajar materi, mengasah skill yang lain lain juga. Kayak manajemen waktu, ngatur prioritas, ngelobi dosen… Ups.. Wkwkkwkk.  Tapi setidaknya di Indonesia, standar latar belakang pendidikan cukup menentukan minimal gaji yang bisa didapat kalau ngelamar kerja ke perusahaan. Misalnya, gaji lulusan SMA, mestinya beda dengan yang lulusan S1. Apalagi S2. Tapi klo S3… Mungkin lebih dihargai klo kerja di bidang akademis kali ya? Ngga tahu juga sih. Belum ngerasain soalnya, hehe… Dan jarang diskusi soal ini secara mendalam.

Pengalaman orang orang terdekat, misalnya seorang psikolog jago dagang dan ternyata berbakat jd tukang pijet dadakan, kerjaan ga mesti sama dengan pendidikan. Klo lihat tokoh tokoh besar pastinya lebih banyak nama yang bisa disebutkan. Yang jelas ilmu apapun worth learning for. Kerjaan, rezeki, asal mau usaha yang halal pastinya ada jalan.

Pengalaman pribadi soal pendidikan dan kerjaan…. Ngga ngambungnya level dewa. Hehehehe.. Gara gara ditawari untuk bantu ngajar di lembaga kursus membaca Qur’an tempat aku sendiri belajar, kok ya jadi kerjaan sampe sekarang. Awalnya syok. Nangis nangis gulung gulung di kamar. Men, gue sekolah sampe S2 di Jakarta, capek capek nyelesein tesis bla bla bla. Wkwkk… Dan segala justifikasi dalam kepala bahwa aku layak dapat gaji lebih dari yang bakal kuterima sebagai seorang guru ngaji. Tapi toh gaji guru ngaji di Indonesia berapa sih? Bukan sesuatu yang dianggap membanggakan walau sebenarnya penting untuk pembentukan karakter seseorang. Bekal dunia akhirat juga. Hanya penghargaan nya memang kurang. Just admit it, for now it’s the truth. Tapiiii abis itu mikir mikir… Toh dijalani dulu aja ngga ada ruginya. Toh bisa ngajar di sana bukan karena ijasah S2, tapi karena mantan siswa dan sudah wisuda hafalan sekian juz, lulus seleksi juga. Makanya diterima. Dan kamu pun ngga dipaksa harus masuk. Tapi ditanyain dulu. Klo emang setuju, silakan lanjut. Klo engga, you can stop and kembali jadi siswa.

Dan akhirnya kuterima…. Dan di sana ketemu seseorang yang akhirnya jadi bapak anak saya, yang selanjutnya ngga perlu disebutin lagi lanjutannya karena bukan itu fokusnya, hahaa..

Hampir dua tahun berjalan, dan aku masih berstatus pengajar di sana. Alhamdulillah. Satu hal yang tidak kusangka, aku akan menikmati pekerjaan ini walau dengan gaji yang pas. Pas untuk modal kulakan pulsa, pas untuk belanja onlen pas ada promo, hehe… Alhamdulillaaah ‘alaa kulli haal.

Kuncinya belajar untuk terus bersyukur. Insya allah akan ditambah sama Allah. Ikhlas saja, Allah ngga tidur kok. Dan setiap kebaikan tidak akan disia-siakan. Bismillah, semoga aku bisa semakin istiqomah berbagi sedikit ilmu ini, dan seiring berjalan nya waktu, semakin tekun belajar untuk terus memperbaiki diri.

Advertisements

2 thoughts on “Kerjaan vs Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s